Senin, 30 Maret 2015

Mutiara hikmah I

INDAHNYA SABAR
Kesabaran adalah hal sangat berharga dan harus dimiliki oleh mereka yang serius ingin menjadi pemenang. Kesabaran akan mengantarkan kita ke tujuan. Dengan kesabaran, kemustahilan menjadi kenyataan. Yang sepertinya jauh serasa dekat. Lambat berubah cepat. Kesabaran melenyapkan rasa putus asa. Kesabaran menimbulkan sangkaan baik kepada apapun yang tengah berlabuh kepada diri kita. Spirit kita akan tetap terjaga, bahkan kian membesar hingga membuat kita semakin mudah menaklukan peliknya kehidupan. Sabar selaksa cahaya yang membuat terang jiwa. Mengubah ilalang menjadi taman berbunga. Memandang jalan berliku menjadi jalan elok. Melihat jurang terjal menjadi pemandangan memesona.
Sabar selaksa penolong. Mengentaskan mental rapuh. Memberikan cahaya di ruang gelap. Menjadi selimut dikala dingin. Bukankah Allah berfirman, jadikan sholat dan sabar sebagai penolong. Sering kali karena kurang kesabaran dari kita kesuksesan yang sebenarnya sebentar lagi kita raih, kembali terbang, melayang entah kemana. Kecewa merasuk kala tak sabar. Menjadikan kita meluap marah. Kita menyalahkan Allah, padahal kita yang kurang sabar. Pernah saya memikirkan tentang orang-orang yang mengatakan bahwa kesabaran manusia ada batasnya. Pernyataannya seolah mengatakan kalau kita boleh berbuat sesuka hati kala kita sudah melampaui batas kesabaran. Lalu dimana letak ukuran kesabaran seorang hamba? Kalau begitu dimana istimewanya kesabaran? Jelaslah bahwa kesabaran tidak ada batasnya, yang membatasi manusianya sendiri. Manusia yang selalu menginginkan kemudahan tanpa berkorban.
Tidaklah datang suatu kadar kebahagiaan melainkan sesuai dengan pengorbanan seorang hamba untuk meraihnya. Yang membatasi sifat sabar adalah diri yang lelah menahan kecaman peruntuh bangunan sabar. Dia beranggapan bahwa kesabaran manusia relatif, tidak mungkin sama. Yah, memang tidak akan pernah sama tergantung kualitas keimannannya pada Allah. Semakin dekat ia dengan Allah semakin besarlah sabarnya. Semakin sabar menghadapi keruhnya hiruk-pikuk dunia. Harapannya hanyalah Allah, jadi dia rela bersabar menghadapi apapun. Orang yang berhenti bersabar, berarti dia telah kembali menjadi orang yang merugi. Bukankah Allah berjanji akan menggembirakan orang-orang yang bersabar dijalan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar